Senin, 13 Februari 2012

DEPRESIASI


Sebuah peralatan yang digunakan secara bertahap akan mengalami penyusutan
dalam nilainya, yang pada akhirnya tidak bernilai sama sekali (worthlessness). Pengurangan nilai yang terjadi selama periode kerjannya tersebut harus dikeluarkan sejumlah biaya yang disebut biaya depresiasi. Metode pengalokasian biaya atas penyusutan nilai suatu asset disebut dengan Metode depresiasi.

Straight Line Depreciation

Metode depresiasi Straight Line (garis lurus) menghitung pengalokasian biaya depresiasi suatu asset secara konstan setiap periodenya selama masa fungsi asset tersebut.

Rumus :

Dt = (P – S)/n,

Sedangkan nilai buku pada peride ke t dapat dicari dengan rumus sebagai
berikut :

BVt = P - Dt

di mana : Dt = Depresiasi pada peride ke t ( t = 1,…n)
BVt = Nilai Buku (Book Value) pada periode t
P = Harga Perolehan Asset
S = Nilai Sisa/Nilai Likuidasi (Salvage Value)
n = Masa Fungsi (Useful Life)

Contoh :

Sebuah sentral digital dibeli seharga US$ 10,000 dan diharapkan memilili masa pakai 5 tahun. Pada akhir umurnya diperkirakan memiliki nilai sisa sebesar US$ 1.000.
D = (US$ 10.000 – US$1.000)/5 = US$ 1.800 per tahun

Sum of Year Digits Depreciation

Metode ini mencoba mengalokasikan beban depresiasi suatu asset berdasarkan jumlah digit tahun pemakaiannya (sum of year digits), sehingga alokasi biaya depresiasi tidak konstan. Dengan metode ini alokasi biaya depresiasi dibebankan lebih besar pada awal-awal periode.

Sum of Year Digits = ( n + 1) . n/2
= ( 5 + 1) . 5/2 = 15

SOYD Depreciataion t = n – t / SOYD (P – S)
di mana : t = 0,1,2,3…....n-1



Double Declining Balance Depreciation

Metode depresiasi dengan DDB mencoba mengalokasikan biaya depresiasi secara konstan, melainkan pembebanannya mengalami penurunan sesuai dengan pengalokasian biaya depresiasi pada periode-periode sebelumnya, sehingga pada awal-awal periode pengoperasian asset beban depresiasinya
lebih besar dibandingkan periode-periode berikutnya.

Metode depresiasi Double Declining Balance (DDP) dihitung dengan rumus
sebagai berikut :


DDB Dt = 2/n . (P – Σ D t –1)

Sinking Fund Depreciation


Metode depresiasi Sinking Fund mencoba mencari pembebanan depresiasi tahunan secara seragam dengan cara mempertimbangkan faktor suku bunga,senhingga nilai asset yang akan didepresiasikan dikalikan dengan Equal Payment Series Sinking Fund Factor.

Biaya depresiasi sinking fund dicari dengan menggunakan rumus sebagai
berikut :

Dt = (P – S) (A/F, %,n)
Misalkan i = 20%

sumber : diktat ekonomi ( rusyandi ginting )


Peranan ekonomi teknik



Dizaman yang berkembang seperti sekarang ini perlu adanya peranan ekonomi teknik karena dengan adanya peranan tersebut ekonomi di Negara kita akan maju khususnya di dalam dunia industri peranan ini dapat di pakai di bagian HRD suatu perusahaan agar biasa menghitung jumlah laju pesat berkembangnya atau penurununan suatu perusahaan dengan menghitung jumlah keuntungan pemasukan dan kerugian pengeluaran suatu produksi.

Pengembangan suatu system informasi merupakansuatu investasi sperti halnya investasi proyek lainnya. Investasi berarti dikeluarkannya sumber-sumber daya untuk mendapatkan manfaat dimasa mendatang. Investasi untuk mengembangkan system informasi juga membutuhkan sumber-sumber daya.

Sebagai hasilnya, system informasi dapat memberikan manfaat-manfaat yang dapat berupa penghematan-penghematan atau manfaat-manfaat yang baru. Jika manfaat yang diharapkan lebih kecil dari sumber-sumber daya yang di keluarkan, maka system informasi ini dikatakan tidak bernilai atau tidak layak, oleh karena itu, sebelum system informasi dikembangkan, maka perlu dihitung kelayakan ekonomisnya, teknik untuk menilai ini disebut dengan analisis biaya keuntungan (cost/benefit analysis).

Minggu, 12 Februari 2012

UMUR INVESTASI


Penentuan umur investasi dalam evaluasi investasi akan sangat menentukan, karena mempengaruhi dalam pendiskontoan (discounted). Oleh karena itu perlu ditentukan berapa umur investasi yang akan digunakan. Ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk menentukan umur suatu investasi.

Ownership Life

Usia pemilikan (ownership life) atau usia pelayalanan (service life) adalah periode waktu yang digunakan dalam pelayanan. Secara tidak langsung dinyatakan sebagai suatu periode pelayanan yang digunakan secara penuh dari sejak pemasangan (installing) sampai dengan tidak digunakan lagi.
Dalam hal perlu diperhatikan bahwa seringkali kita masih mempertahankan peralatan di luar batas kemampuannya untuk memuaskan tujuan fungsinya, sebab mesin dapat memiliki usia fisik lebih lama dari usia pelayanannya.
Ada 3 tipe umur pelayanan yang secara praktis dapat diklasifikasikan sebagai
berikut :

1) Physical Service Life

Umur pelayanan fisik dapat diartikan sebagai periode waktu di mana sebuah peralatan menjadi tidak berguna lagi karena sudah mengalami kemunduran fisik (deterioration), seperti patah, aus, dsb.

2) Practical Service Life

Usia pelayanan praktis dapat dimengerti bahwa setiap peralatan terdiri dari berbagai elemen (spare part) yang memiliki penyebab dan frekuensi kerusakan yang berbeda. Umur ini ditentukan oleh rata-rata dari umur
fisik elemen-elemennya.

3) Economic Service Life

Umur ekonomis pelayanan adalah suatu usia periode waktu yang memperkecil biaya total tahunan ekivalen (total equivalence uniform cashflow of cost). Atau dengan kata lain adalah umur yang memberikan
biaya total tahunan ekivalen (total equivalence uniform cashflow of cost) minimum. Di mana total equivalence uniform cashflow merupakan penjumlahan antara biaya tahunan operasi & maintenance dan jumlah pemulihan modal yang diinvestasikan (collection cost of invested capital)

Secara umum dapat dikatakan bahwa umur ekonomis pelayanan lebih pendek dibandingkan umur pelayanan praktis.

Accounting Life

Usia akuntasi adalah suatu usia perkiraan yang terutama didasarkan pada pembukuan dan pertimbangan pajak. Usia akuntansi ini tidak dapat dihubungkan dengan periode kegunaan dan keinginan ekonomis. Dalam
permasalahan depresiasi dan perpajakan (income tax) akan terlihat bahwa laporan-laporan akuntansi untuk usia dan penyusutan sebuah asset mempengaruhi perpajakan yang secara timbal balik mepengaruhi pendapatan bersih yang didapat dari penggunaan asset.

Perpetual Life

Usia abadi (perpetual life) yang sebenarnya tidak akan ditemukan atau dicapai oleh peralatan buatan manusia. Dalam konteks studi ekonomi – teknik usia abadi diasumsikan jika suatu proyek investasi memiliki umur pelayanan lebih dari 50 tahun (n = ∞). Sebagai contoh proyek pembuatan jalan KA, bendungan, pembangkit listrik tenaga hydro, dsb.

Residual Value – Salvage Value

Secara umum jika suatu peralatan telah habis masa pelayanannya, peralatan tersebut bisa dianggap masih memiliki nilai atau dinyatakan bahwa pada akhir fungsi pelayanan peralatan tersebut nilai adalah nol.

1) Net Residual Value

Suatu nilai peralatan pada akhir umur pelayanannya, jika peralatan
tersebut masih dapat diperbaiki dan dijual.

2) Net Scrap Value

Suatu nilai peralatan pada akhir umur pelayanannya, jika peralatan
tersebut tidak dapat diperbaiki dan dijual atau nilainya dianggap nol.

sumber : Diktat Ekonomi Teknik (Risdiyanto Ginting)

PRESENT WORTH ANALYSIS (3)

Soal-soam PWA lanjutan...

soal 1


Sebuah Divisi Regional PT. Telkom sedang mempertimbangkan keputusan untuk membeli STDIK (kapasitas 1000 lines). Ada 3 vendor yang menawarkan produk tsb., yaitu ATT, EWSD, NEAX. Karaketeriistik biaya dari ketiga sentral tersebut adalah sebagai berikut (dalam ribuan US$):

                                                                         ATT          EWSD         NEAX
Initial Cost (Invest.,Install, Shipping, Ass.)         1.250          1.100           1.000
Annual O&M Cost                                             40               50                 60
End of Useful life Salvage Value                         125             110               100
Useful life (masa fungsi), tahun                             15               15                 15
Jika diketahui MARR = 20%, sentral manakah yang sebaiknya dipilih :

Penyelesaian :

PW (20%) ATT = $1.250.000+40.000(P/A,20%,15) – 125.000 (P/F,20%,15)
                          = $1.250.000+40.000(5,8474)-125.000 (0,1229) = $1.468.534

PW (20%) EWSD = $1.100.000+50.000(P/A,20%,15) – 110.000 (P/F,20%,15)
                              = $1.250.000+50.000(5.8474)-110.000(0,1229) = $1.378.581

PW (20%) NEAX = $1.000.000+60.000(P/A,20%,15) – 100.000 (P/F,20%,15)
                             = $1.250.000+60.000(5,8474)-100.000(0,1229) = $1.338.554

Minimize Cost  Pilih Sentral NEAX

soal 4

Sebuah Datel sedang merencanakan pembelian sistem catu daya sentral (SCDS). Terdapat 2 vendor yang menawarkan sistem tersebut, yaitu vendor lokal dan vendor luar (import). Vendor lokal menawarkan sistem tersebut dengan harga Rp.100 Juta termasuk biaya kirim dan instalasi, sedangkan vendor luar Rp. 175 juta. SCDS Lokal diestimasi memiliki umur teknis 5 tahun dengan nilai sisa Rp. 5 Juta, sedangkan SCDS ex import estimasi umur teknisnya 10 tahun dengan nilai sisa Rp. 7,5 juta. Biaya operasional dan maintenance SCDS Lokal dan CSDS ex import adalah sebagai berikut (dalam Rp. Juta) :

Tahun                 1   2   3   4   5  6  7  8  9 10
Lokal                10 20 30 40 50  -  -  -   -  -
Ex Import         20 20 20 30 30 30 40 40 40 50

SCDS lokal pada tahun ke 3 harus di-overhaull dengan biaya Rp.30 Juta, sedangkan SCDS ex import dioverhaull pada tahun ke 4 dan ke 8 dengan biaya Rp.30 juta dan Rp.35 juta. Jika MARR 18%/th. SCDS mana yang sebaiknya dipilih.


Penyelesaian :

Karena umur alternatif tidak sama, maka kedua alternatif dikaji dengan periode
kajian yang merupakan kelipatan terkecil umur masing-masing alternatif, yaitu 10
tahun.
CSDS Lokal :

PW (18%) = {Rp.100 + 10(P/A,18%,5) + 10(P/G,10%, 5) +30(P/F,10%,3) - 5(P/F,18%,5} + {Rp.100 + 10(P/A,18%,5) + 10(P/G,10%,5) +30 (P/F,10%,3) - 5 (P/F,18%,5}(P/F,18%,5)

PW (18%) = {Rp.100 + 10(3.127) + 10(5,231) +30(0,6086) - 5(0,4371)} +{Rp.100 + 10(3,127) + 10(5,231) + 30(0,6086) - 5(0,4371}(0,4371)

PW (18%) = 204,0235 + 89,1787 = Rp. 293,2022 Juta


CSDS Ex Import :

PW (18%) = {Rp.175 + 20(P/A,18%,3) + 30(P/A,18%,3)(P/F,18%,3) + 40(P/A,18%,3)(P/F,18%,6) + 50(P/F,18%,10) – 7,5 (P/F,18%,10)

PW (18%) = {Rp.175 + 20(2,174) + 30(2,174)(0,6086) + 40(2,174)(0,3704) + 50(0,1911) – 7,5 (0,1911)

PW (18%) = Rp.301,3711

Minimize Cost : Pilih alternatif SCDS Lokal



PRESENT WORTH ANALYSIS (2)


soal-soal PWA 

Divisi Properti PT.Telkom sedang mempertimbangkan usulan 2 buah alternatif elevator X dan Y yang akan digunakan untuk Gedung Kantor Pusat. Kedua jenis elevator memiliki masa pelayanan (service life) 20 tahun, tanpa nilai sisa pada akhir masa pelayanannya. Biaya Investasi elevator X $200.000 dengan biaya
operational dan maintenance (Annual O&M Cost) $30.000 per tahun. Sedangkan elevator Y membutuhkan investasi $250.000 dengan biaya operasional dan maintenance $20.000 per tahun. Elevator jenis manakah yang harus dipilih jika diketahui MARR Div. Properti 10% per tahun.\

Penyelesaian :

PW(10%) Elevator X = $ 200.000 + 30.000 (P/A,10%,20)
= $ 200.000 + 30.000 (8,514)
= $455.420
PW(10%) Elevator Y = $ 250.000 + 20.000 (P/A,10%,20)
= $ 250.000 + 20.000 (8,514)
= $420.280

Karena kasus di atas termasuk kondisi perbandingan biaya, maka kriterianya
adalah minimasi biaya.  Pilih Elevator Y.

SOAL 2

VP Pelayanan sedang mempertimbangkan dua Sistem Pelayanan Pelanggan, yaitu Sistem Pelayanan Semi Terintegrasi (Semi Intergrated - Customer Service System) dengan Sistem yang baru yaitu (Fully Integrated - Customer Service System) untuk mengganti sistem lama yang masih manual. Sistem Manual menghabiskan biaya OAM Rp.400 Juta per tahun, Semi Integrated CSS membutuhkan Initial Costs Rp. 250 Juta dan mampu menghemat biaya OAM Rp.100 juta per tahun, sedangkan Fully Integrated CSS membutuhkan initial costs Rp. 400 Juta dengan penghematan biaya OAM Rp.150 juta pada tahun pertama,
Rp.175 juta pada tahun kedua, Rp. 200 juta pada tahun ketiga, dan Rp.225 juta pada tahun keempat. Jika MARR 12%/tahun dan periode analisis 4 tahun sistem
manakah yang sebaiknya dipilih.

Penyelesaian :

1. Manual CSS

PW(12%) = 400 juta (P/A,12%,4) = 400 juta (3,037)
= Rp. 1.214,8 Juta

2. Semi Integrated CSS

PW(12%) = 250 juta + 300 (P/A,12%,4)
= 400 juta + 300 (3,037)
= Rp. 1.161,1 Juta

3. Fully Integrated CSS

PW(12%) = 400 juta + {250 (P/A,12%,4) - 25 (P/G/12%,4)}
= 400 juta + {250 (3,037) - 25(4,127)}
= Rp. 1.262,25 Juta

Kriteria : Minimize Cost  Pilih alternatif Semi Integrated CSS


PRESENT WORTH ANALYSIS


Present Worth Analysis (Analisis Nilai Sekarang) adalah metode studi ekonomi teknik yang didasarkan kepada keekivalenan nilai dari seluruh cashflow (in cashflow ataupun out cashflow) pada suatu titik waktu relatif yang disebut waktu sekarang (present). Metode PW biasa digunakan pada analisis dari berbagai
ususlan alternatif biaya maupun studi kelayakan investasi.
Untuk memperoleh PW sebagai fungsi dari i% dari serangkaian aliran kas masuk (in cashflow) dan aliran kas keluar (out cashflow), yang berada pada periode di depan titik sekarang perlu didiskon (dikalikan faktor bunga) ke masa sekarang dengan menggunakan suatu tingkat bunga (MARR) selama periode penelaahan.

di mana :
i = tingkat bunga efektif (MARR) per tahun (per periode pemajemukan)
k = indeks periode pemajemukan (0 ≤ k ≤ n)
Fk = arus kas pada periode di depan
n = periode penelahaan
Kriteria pengambilan keputusan (decision making criterion) yang digunakan pada
analisis Present Worth adalah sebagai berikut :
Kondisi                                                                             Kriteria
1. Seluruh alternatif memiliki biaya yang sama         Maximixe PW (benefits)
2. Seluruh alternatif memiliki benefit yang sama       Minimize PW (costs)
3. Tidak satupun alternatif memiliki biaya maupun   Maximize PWBenefit-PWCost
manfaat yang sama (Net Present Worth)

Selain kondisi yang dijelaskan di atas, dalam beberapa kasus pengambilan keputusan terhadap beberapa alternatif yang dikaji akan dijumpai :
1. Alternatif yang dikaji memiliki masa fungsi/masa pelayanan yang sama dengan periode analisis (study  period)
2. Alternatif yang dikaji memiliki masa fungsi/masa pelayanan yang berbeda dengan periode analisis
3. Alternatif yang dikaji memiliki masa fungsi/masa pelayanan yang permanent/abadi (>50 tahun), seperti halnya pengkajian terhadap proyek-proyek
pemerintah (public utility - infrastructure/gov. projects)

Contoh
Sebuah keluarga muda baru memperoleh kebahagiaan dengan lahirnya anak pertama mereka. Mereka sedang merencanakan berapa banyak biaya pendidikan yang harus disediakan untuk anak pertamanya tersebut, di mana mereka mengharapkan dapat menyekolahkannya sampai dengan perguruan tinggi. Mereka
mengestimasi biaya yang dibutuhkan anaknya masuk ke setiap jenjang pendidikan. Pada usia 5 tahun akan masuk pendidikan di TK dengan biaya Rp.1 Juta, usia 7 tahun masuk SD dengan biaya Rp.2,5 Juta, usia 13 Tahun masuk SLTP dengan biaya Rp.5 juta, usia 16 tahun masuk SMU dengan biaya Rp.7,5 juta, dan pada usia 19 tahun masuk PT dengan biaya 15 Juta per tahun selama 5 tahun. Hitung jumlah biaya pendidikan yang didepositokan sekarang sehingga rencana pendidikan anak tersebut berjalan ? (Suku Bunga Deposito 10%/tahun)
Penyelesaian :

PW Total = PWTK + PWSD + PWSLTP + PWSMU + PWPT
= 1(P/F,10%,5)+2,5(P/F,10%,7)+5(P/F,10%,13)+7,5(P/F,10%,16)+ 15(P/A,10%,5)(P/F,10%,18)
= Rp.15,214 Juta

sumber : diktat ekonomi teknik ( risdiyanto ginting )


Sabtu, 11 Februari 2012

MINIMUM ATTRACTIVE RATE OF RETURN (MARR)  i*


MARR adalah tingkat suku bunga pengebalian minimum yang menarik , di mana tingkat suku bunga tersebut akan dijadikan dasar atau indikator keputusan manajemen sehubunga dengan pemilihan alternatif-alternatif biaya (cost alternatives), manfaat (benefit alternatives) atau kelayakan suatu investasi (feasibility study), Penentuan MARR harus mempertimbangkan beberapa hal, yang akan dijelaskan sebagai berikut.

Cost of Capital (Biaya Modal)


Jika sumber biaya investasi adalah dana pinjaman, maka penentuan MARR harus mempertimbangkan faktor biaya modal (tingkat suku bunga pinjaman ditambah dengan faktor-faktor resiko investasi). Karena return dari investasi yang dilakukan minimal harus menutupi biaya modal yang digunakan. Selain itu jumlah uang yang tersedia, dan sumber biaya dari mana dana tersebut diadakan (equity atau debt financing) perlu dipertimbangkan pula.
Misalnya TELKOM akan membangun jaringan transport nasional yang berbasis teknologi ATM dengan modal investasi berupa pinjaman kredit dari sebuah Bank dengan tingkat bunga 60%/tahun, maka investasi yang dilakukan dikatakan layak jika memberikan return sama atau lebih dari 60%/tahun atau proyek investasi tersebut harus menghasilkan Net Present Value (NPV) atau Net Equivalence Uniform Annual Cash Flow (EUAC) positif.

Cost of Opportunity Loss (Biaya Hilangnya Kesempatan)

Lain halnya bila investasi yang dilakukan dengan menggunakan modal sendiri, maka penentuan MARR harus mempertimbangkan biaya hilangnya kesempatan yang tidak diambil karena kita memutuskan atau menjatuhkan pilihan pada alternatif lain.
Misalkan TELKOM tahun 1998 memutuskan untuk investasi senilai Rp. 10 Trilyun dengan modal sendiri, maka investasi tersebut menghilangkan kesempatan TELKOM untuk memperoleh return
pada alternatif investasi lainnya, misalnya membeli Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dengan suku bunga 70% /tahun ( = Rp. 7 Trilyun /tahun).

Risk Investment

Suatu investasi akan mengandung resiko, berapapun kecilnya resiko tersebut. Besar kecilnya resiko akan sangat tergantung pada kemampuan manajemen (investor) dalam memiliki atau mencari informasi – informasi yang relevan dengan kegiatan investasi yang dilakukan. Semakin sedikit informasi yang dimiliki semakin besar resiko investasi yang harus ditanggung, demikian sebaliknya.

Jenis Organisasi dan Usaha

Suatu organisasi akan memiliki opportunity dan resiko yang berbeda dalam melakukan kegiatan investasi dengan organisasi lainnya. Demikian halnya dengan jenis usaha yang dimasuki. Jenis usaha manufaktur dimungkinkan memiliki tingkat MARR yang berbeda dengan usaha pertanian, perhotelan, dsb. Proyek pememrintah akan memiliki MARR yang berbeda dengan jenis sektor industri yang kompetitif

sumber : Diktat Ekonomi Teknik ( Risdiyanto Ginting )